DKM Al Ikhlas

October 3, 2007

Data DKM

Filed under: data DKM — jumat @ 7:31 am

October 2, 2007

Sudahkah Anda Sholat

Filed under: data DKM — jumat @ 7:32 am

October 1, 2007

Keajaiban Al Qur ‘an

Filed under: Pendidikan — jumat @ 9:39 am

Bab Birul Walidain dari Harun Yahya

PENGETAHUAN AL QUR’AN

Filed under: Pendidikan — jumat @ 8:26 am

Harun Yahya

Semua yang telah kita pelajari sejauh ini memperlihatkan kita akan satu kenyataan pasti: Al Qur’an adalah kitab yang di dalamnya berisi berita yang kesemuanya terbukti benar. Fakta-fakta ilmiah serta berita mengenai peristiwa masa depan, yang tak mungkin dapat diketahui di masa itu, dinyatakan dalam ayat-ayatnya. Mustahil informasi ini dapat diketahui dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi masa itu. Ini merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an bukanlah perkataan manusia.

Al Qur’an adalah kalam Allah Yang Maha Kuasa, Pencipta segala sesuatu dari ketiadaan. Dialah Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dalam sebuah ayat, Allah menyatakan dalam Al Qur’an “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Al Qur’an, 4:82) Tidak hanya kitab ini bebas dari segala pertentangan, akan tetapi setiap penggal informasi yang dikandung Al Qur’an semakin mengungkapkan keajaiban kitab suci ini hari demi hari.

Apa yang menjadi kewajiban manusia adalah untuk berpegang teguh pada kitab suci yang Allah turunkan ini, dan menerimanya sebagai satu-satunya petunjuk hidup. Dalam salah satu ayat, Allah menyeru kita:

“Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (Al Qur’an, 6:155)

Dalam beberapa ayat-Nya yang lain, Allah menegaskan:

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” (Al Qur’an, 18:29)

“Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya.” (Al Qur’an, 80:11-12)

Informasi Mengenai Peristiwa Masa Depan dalam Al Qur’an

Filed under: Pendidikan,Perpustakaan — jumat @ 8:08 am

(Karya Harun Yahya) 

Sisi keajaiban lain dari Al Qur’an adalah ia memberitakan terlebih dahulu sejumlah peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Ayat ke-27 dari surat Al Fath, misalnya, memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan menaklukkan Mekah, yang saat itu dikuasai kaum penyembah berhala:

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rosul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui, dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.” (Al Qur’an, 48:27)

Ketika kita lihat lebih dekat lagi, ayat tersebut terlihat mengumumkan adanya kemenangan lain yang akan terjadi sebelum kemenangan Mekah. Sesungguhnya, sebagaimana dikemukakan dalam ayat tersebut, kaum mukmin terlebih dahulu menaklukkan Benteng Khaibar, yang berada di bawah kendali Yahudi, dan kemudian memasuki Mekah.

Pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan hanyalah salah satu di antara sekian hikmah yang terkandung dalam Al Qur’an. Ini juga merupakan bukti akan kenyataan bahwa Al Qur’an adalah kalam Allah, Yang pengetahuan-Nya tak terbatas. Kekalahan Bizantium merupakan salah satu berita tentang peristiwa masa depan, yang juga disertai informasi lain yang tak mungkin dapat diketahui oleh masyarakat di zaman itu. Yang paling menarik tentang peristiwa bersejarah ini, yang akan diulas lebih dalam dalam halaman-halaman berikutnya, adalah bahwa pasukan Romawi dikalahkan di wilayah terendah di muka bumi. Ini menarik sebab “titik terendah” disebut secara khusus dalam ayat yang memuat kisah ini. Dengan teknologi yang ada pada masa itu, sungguh mustahil untuk dapat melakukan pengukuran serta penentuan titik terendah pada permukaan bumi. Ini adalah berita dari Allah yang diturunkan untuk umat manusia, Dialah Yang Maha Mengetahui.

Bagaimana Memahami Ayat Allah di Alam (HARUN YAHYA)

Filed under: data DKM — jumat @ 8:04 am

Dalam Alqur’an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak mengenali atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya. Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu “…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan, 3:190-191) Di banyak ayat dalam Alqur’an, pernyataan seperti, “Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”, “terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal,” memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah telah menciptakan beragam ciptaan yang tak terhitung jumlahnya untuk direnungkan. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini: “Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. An-Nahl, 16:11) Marilah kita berpikir sejenak tentang satu saja dari beberapa ciptaan Allah yang disebutkan dalam ayat di atas, yakni kurma. Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada. Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon? Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah. Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya, terdapat kecerdasan mengagumkan dalam apa yang dilakukan oleh biji. Namun, apakah sumber kecerdasan tersebut? Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa? Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini ada dalam pengetahuan Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak terbatas. Dalam sebuah ayat disebutkan: Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al-An’aam, 6:59). Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai tumbuh-tumbuhan baru. Dalam ayat lain Allah menyatakan: Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (QS. Al-An’aam, 6:95) Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah SWT.

Artikel

Filed under: data DKM — jumat @ 7:49 am

File Data DKM Al Ikhlas :

August 30, 2007

Tafsir Surat Al Ikhlash

Filed under: Dakwah,data DKM — jumat @ 2:04 am

BismillahirrahmaanirrahiimAllah berfirman.
Artinya :
“Katakanlah : “Dialah Allah, Yang Maha Esa” [Al-Ikhlash : 1]
“Allah adalah Ilah yang bergantung kepadaNya segala urusan” [Al-Ikhlash : 2]
“Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan” [Al-Ikhlash : 3]
“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” [Al-Ikhlash : 4]

Mengenai “basmalah” telah berlalu penjelasannya.

Sebab turunnya surat ini adalah, ketika orang musyrik atau orang Yahudi berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Beritakan kepada kami sifat Rabb-mu!” Kemudian Allah Ta’ala menurunkan surat ini [1]

Qul = “Katakanlah”. Pernyataan ini ditujukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya. “Huwa Allahu ahad” = “Dialah Allah Yang Maha Esa”. Menurut ahli I’rab, huwa adalah dhamir sya’n, dan lafdzul jalalah Allah khabar mubtada dan “Ahadun” khabar kedua. ‘Allahu Ash-Shomad’ kalimat tersendiri. “Allahu Ahadun” Yakni, Dia adalah Allah yang selalu kamu bicarakan dan yang selalu kamu memohon kepada-Nya. “Ahadun”. Yakni, Yang Maha Esa dalam kemuliaan dan keagungan-Nya, yang tiada bandingan-Nya, tiada sekutu bagi-Nya. Bahkan Dia Maha Esa dalam kemuliaan dan keagungan. “Allahu Ash-Shomad” adalah kalimat tersendiri Allah Ta’ala menjelaskan bahwa dia Ash-Shomad. Makna yang paling mencakup iallah Dia mempunyai sifat yang sempurna yang berbeda dengan semua mahkhluk-Nya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Ash-Shomad ialah yang sempurna Keilmuan-Nya, Yang sempurna Kesantunan-Nya, Yang sempurna Keagungan-Nya, Yang sempurna Kekuasaan-Nya. Sampai akhir perkatan-Nya [2]. Ini artinya bahwa Allah Ta’ala tidak membutuhkan makhluk karena Dia Maha Sempurna. Dan juga tertera dalam tafsir bahwasanya As-Shamad ialah yang menangani semua urusan makhlukNy-Nya. Artinya, Bahwa seluruh makhluk sangat bergantung kepada Allah Ta’ala. Jadi, arti yang paling lengkap ialah : Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifat-Nya dan seluruh makhluk sangat bergantung kepada-Nya.

“Lam yaalid”. Bahwa Allah Azza wa Jalla tidak mempunyai anak karena Dia adalah Dzat Yang Maha Muali dan Maha Agung, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Seorang anak adalah sempalan dan bagian dari orang tuanya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Fathimah Radhiyallahu ‘anha.

“Artinya : Ia adalah bahagian dari diriku” [3]

Allah Azza wa Jalla tidak ada yang serupa dengan-Nya. Anak merupakan salah satu kebutuhan manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan dunia maupun untuk menjaga kesinambungan keturunan. Allah Azzan wa Jalla tidak memerlukan itu semua. Dia juga tidak dilahirkan karena tidak ada yang serupa dengan-Nya dan Allah Azza wa Jalla tidak memerlukan seorang dari makhluk-Nya. Allah telah mengisyaratkan bahwa mustahil bagi-Nya mempunyai anak, seperti dalam firman-Nya.

“Artinya : Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri ? Dia menciptakan segala sesuatu ‘ dan Dia mengetahui segala sesuatu” [Al-An’am : 101]

Seorang anak membutuhkan orang yang melahirkannya.

Demikianlah, Allah adalah Dzat Yang Menciptakan segala sesuatu. Jika Allah menciptakan segala sesuatu berarti Dia terpisah dari makhluk-Nya.

Dalam firman-Nya : Lam yaalid” = “tidak beranak” merupakan bantahan terhadap tiga kelompok anak Adam yang menyimpang. Mereka adalah orang Musyrik, orang Yahudi dan orang Nasrani. Orang musyrik meyakini bahwa malaikat yang mereka itu ‘Ibadur Rahman’ berjenis perempuan. Mereka mengatakan bahwa malaikat tersebut adalah anak perempuan Allah. Orang Yahudi mengatkan ‘Uzair adalah anak Allah, dan orang Nasrani mengatakan Al-masih adalah anak Allah. Kemudian Allah mengingkari mereka semua dengan firman-Nya “Lam yaalid wa lam yuu lad” = “Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakan”, karena Allah Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Pertama, tidak ada sesuatu yang mendahului-Nya, bagaimana mungkin dikatakan bahwa Dia dilahirkan.

Firman Allah.

“Artinya : Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” [Al-Ikhlash : 4]

Yaitu tidak ada sesuatu pun yang menyamai seluruh sifat-sifat-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menafikan Dirinya mempunyai ayah atau Dia dilahirkan atau ada yang semisal dengan-Nya.

Sureat ini mempunyai keistimewaan yang sangat agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Bahwa ia (surat Al-Ikhlash) menyamai sepertiga Al-Qur’an” [4]

Surat ini menyamai sepertiga Al-Qur’an tetapi tidak dapat menggantikan sepertiga Al-Qur’an tersebut. Dalilnya, kalau seorang membaca surat ini sebanyak tiga kali di dalam shalat, masih belum mencukupi sebelum ia membaca surat Al-Fatihah. Padahal jika ia membacanya tiga kali, seolah-olah ia membaca semua Al-Qur’an, tetapi tidak dapat mencukupinya. Jadi, kamu jangan heran ada sesuatu yang sebanding tetapi tidak mencukupi. Misalnya sabda Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Barangsiapa membaca :

“Artinya : Tiada ilah yang berhak disembah kecuali hanya Allah yang tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nyalah segala kekuasaan dan pujian, dan Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu”

Seakan-akan ia telah membebaskan empat orang budak dari keuturunan Isma’il atau dari anak Ismail” [5]

Padahal jika ia berkewajiban untuk membebaskan empat orang hamba, dengan mengatakan dzikir ini saja tidak cukup untuk membebaskan dirinya dari kewajiban membebaskan hamba tersebut. Oleh karena itu, sam bandingnya sesuatu belum tentu dapat menggantikan posisi yang dibandingkan.

Surat ini dibaca Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada raka’at kedua shalat sunnah Fajr, shalat sunnah Maghrib dan shalat sunnah Thawaf [6]. Begitu juga beliau membacanya dalam shalat witir [7], karena surat ini merupakan landasan keikhlasan yang sempurna kepada Allah, inilah sebabnya dinamai dengan surat Al-Ikhlash.

[Disalin dari kitab Tafsir Juz ‘Amma, edisi Indonesia Tafsir Juz ‘Amma, penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerjemah Abu Ihsan Al-Atsari, penerbit At-Tibyan – Solo]

MARHABAN YA RAMADHAN

Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tetamu yang disambut dan diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandungi arti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan. Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para sahabatnya seraya bersabda: “Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan” (Hr. Ahmad) Marhaban Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt. Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan yang banyak ujian dan tentangan. Ada gunung yang harus didaki, itulah nafsu. Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak yang mengancam, serta iblis yang merayu, agar perjalanan tidak dilanjutkan. Bertambah tinggi gunung didaki, bertambah hebat ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan. Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu akan tampak dengan jelas rambu-rambu jalan, tampak tempat-tempat yang indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya. Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama.

August 28, 2007

Marhaban Ya Ramadhan

Filed under: Dakwah — jumat @ 9:17 am

Alhamdulillah kita sudah mencapai pertengahan bulan sya’ban, sebentar lagi bulan romadhon, mudah-mudahan kita semua diberi umur panjang serta kesehatan yang sempurna amin ya robbal alamin.
Pada bulan sya’ban ini kita disunatkan untuk memperbanyak shaum sunat karena nabi SAW hampir melakukan shaum disepanjang bulan sya’ban, nabi sengaja tidak shaum secara penuh di bulan sya’ban tersebut karena khawatir umatnya akan mengikutinya dan kemudian menjadikan puasa dibulan sya’ban tersebut menjadi wajib.
Ummu Salamah berkata : Kebiasaan nabi lebih banyak shaum di bulan sya’ban dibanding dengan bulan-bulan lainnya, nabi tidak melakukan shaum dengan penuh dibulan sya’ban supaya tidak ditiru oleh umatnya.
Aku tidak pernah melihat engkau puasa sebanyak ini dibulan sya’ban dibandingkan dengan bulan-bulan lain selain romadhon Nabi menjelaskan : Ini adalah bulan yang kurang diperhatikan, pada bulan sya’ban ini amal perbuatan disampaikan oleh malaikat kepada Allah SWT dan aku lebih senang kalau amalku disampaikan dimana aku dalam keadaan puasa.
Amal disampaikan / dilaporkan secara berkala yaitu mingguan dan tahunan dimana laporan mingguan dilaksanakan setiap hari Senin dan Kamis, sedangkan laporan tahunan atau lebih tepatnya tutup buku dilakukan setiap bulan sya’ban, jadi pada intinya kita dicontohkan oleh nabi SAW untuk banyak berpuasa di bulan sya’ban itu karena nabi senang kalau amalnya diserahkan kepada Allah SWT melalui malaikat dalam keadaan puasa.
Dibanyak daerah malam nisfu sya’ban sering diisi dengan melakukan sholat 6 rokaat atau ada juga yang melaksanakan sholat Al fiah yaitu shoalt 100 rokaat dengan masing-masing rokaat membaca suarat al-ikhlash sebanyak 100 kali., hal ini sama sekali tidak ada contoh maupun tuntunan dari Nabi SAW.
Dari Sunan Al-Baihaqi : pada suatu malam rusullullah SAW melakukan sholat malam kemudian sujudnya lama sekali sehingga aku ( Aisyah ) khawatir nabi telah meninggal dunia,kemudian dia mencoba menyentuh kaki rosul dan kemudian kaki rosul bergerak, dalam sujud itu kemudian nabi berdo’a dengan suara yang agak keras sehingga terdengar , dalam do’a nya nabi berlindung kepada Allah SWT dari adzab Nya dan memohon keridhoannya dari Allah SWT, memohon keberkahan, panjang umur dan dijauhkan dari mara bahaya. Setelah selesai sholat kemudian nabi berkata ya humairah : apakah kamu mengira diam-diam akau meninggalkanmu , kemudian Aisyah menjawab :tidak ya Rosul , karena sesungguhnya aku khawatir akan keselamatanmu dan kemudian nabi bertanya : Tahukan kamu malam apakah ini ? kata nabi malam ini adalah malam nisyfu sya’ban dimana Allah menurunkan keberkahannya.
Adapun perbedaan sholat malam yang dilakukan nabi pada bulan Sya’ban dan sholat malam lainnya ialah : pada sholat malam di bulan sya’ban nabi melakukannya sujud lebih lama dari pada berdirinya, sedangkan pada sholat malam selain bulan sya’ban nabi memanjangkan ( me-lama-kan ) berdirinya dibandingkan dengan waktu sujudnya.

August 4, 2007

Adab Membaca Al Qur’an

Filed under: Pendidikan — jumat @ 8:43 am

82. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
24. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?
4. Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.

Ayat-ayat tersebut memerintahkan kepada kita untuk tidak hanya sekedar membaca tetapi juga merenung, dan menghayati dengan penuh ketenangan dan kekhusukan. “ Orang terbaik diantara kamu ialah yang mempelajari atau mengajarkan Al-Quran.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca Al-Quran :
1. Berusaha untuk menjadikan bacaan kita ikhlas hanya karena Allah semata, mendekatkan diri kepada Allah melalui membaca Al-Quran. Membaca dengan tulus ikhlas mencari ridho Allah semata tidak mencari keuntungan duniawi semata. Imam Muslim “ aku mendengar rosullullah bersabda : orang pertama yang dihisab oleh Allah adalah orang yang mati sahid kemudian dihadapkan kepada Allah SWT dan diberitahu nikmat-nikmatnya,lalu Allah , lalu Allah bertanya : bagaimana kamu munggunakan nikmat-nikmat ku ? maka dia berkata aku melakukan dengan perang, kamu bohong kamu hanya untuk mendapatkan kepahlawanan, kemudian mukanya dihadapkan ke neraka.kemudian dia berkata mengajarkan Al-Quran : menuntut ilmu untuk mencari keridhoan Allah semata, kamu bohong karena kamu membaca al-quran supaya dipuji oleh orang ,lalu dimasukkannya orang tersebut kedalam neraka.Banyak sekarang qori’ yang menjadikan hafalan /membaca Al-Quran sebagai penghidupan mencari nafkah duniawi saja.
2. Mendalami makna Al-Quran artinya apa yang diperintahkan dilaksanakan dan menjauhi semua yang dilarang, juga melaksanakan dan mengerjakan apa-apa yang halal dan menjauhi semua yang diharamkan.
3. Membaca Al-Quran secara rutinitas harian dan dihafalkan , kalau jarang dibaca maka hafalan tersebut akan hilang oleh karena itu dengan sering membaca maka hafalan akan lancar dan sangat membantu daya ingat kita,nabi membandingkan menghafal al-quran tersebut bagaikan memegang tali kendali unta, kalau kita kendalikan terus maka unta tersebut akan berjalan sesuai dengan keinginan kita tetapi apabila kendali tersebut dibiarkan saja maka unta tersebut bisa hilang arah.Imam Ali : Sering aku lupakan ayat-ayat yang sudah hafal lalu apa yang harus dilakukan ? Bacalah al-quran secara rutin karena melalui bacaan secara rutin maka hafalan kita akan kuat dan usahakan agar kita sering menhatamkan al-quran .Metode yang paling baik ialah al-quran di setel pada saat kita tidur karena sesungguhnya pada saat semua anggauta badan tidur, maka hanya telinga saja yang terjaga dan bacaan tadi bisa langsung ditransfer ke otak.
4. Membaca sambil tadabur , menghayati , menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari, surah ……………afala tatadabbaruuna. Wajib tadabbur mengambil banyak pelajaran dan hokum-hukum dan semua ini diperintahkan tak hanya membaca tetapi dengan tadabbur, kebiasaan ini dilakukan oleh para sahabat dengan menghatamkan al-quran dalam waktu antara 3, 7 atau 10 hari sampai 14 hari..Setiap surat yang sudah hafal baca dalam sholat secara berulang-ulang ,mintalah kepada istri,kawan untuk menyimak hafalan kita , kalau dalam mobil putarlah ayat-ayat al-quran , kita harus juga selalu berdo’a : Aku berlindung kepada Mu dari sikap kelemahan dan kemalasan dan dari rasa takut dan sikap yang kikir.
5. Adab-adab lainnya ialah bahwa al-quran boleh dibaca sambil berdiri, jalan, atau tiduran surah ali imron ayat………tentang tadabbur.. Rosullullah kadang kadang membaca al-quran pada saat menunggangi kendaraan, pada saat fatkhul makkah beliau membaca surat al-fath sambil menunggangi unta sambil menghancurkan patung berhala oleh karena itu kita juga boleh membaca ala-quran pada saat berkendaraan misalnya di angkutan umum atau kendaraan pribadi.Membaca al-quran boleh walaupun kita sedang hadast kecil, yang tidak boleh adalah kita membaca al-quran dalam keadaan junub.Kebiasaan rosul apabila sudah masuk tengah malam pertama yang dilakukan adalah mengusap wajahnya dengan tangannya kemudian beliau berdzikir 10 terakhir ayat surat ali imron.Mana yang lebih afdol membaca hafalan yang sudah hafal atau membaca dengan mushaf, Ibnu Jawzi : alangkah baiknya dibaca dari mushaf tiap hari
6. Membaca secara langsung dengan memperhatikan huruf-hurufnya maka syaraf mata akan lebih tenang dan jeli, jadi membaca al-quran bisa menjadi obat ,kalau kita lihat orang-orang jaman dahulu jarang memakai kaca mata karena mereka sering membaca mushaf al-quran.

Pertanyaan-pertanyaan.
1. Bagaimana kalaukita membawa HP yang didalamnya ada ayat-ayat al-quran ke kamar mandi atau toilet ?. HP harus dimatikan karena ayat-ayat yang ada di HP yang berupa data tidak akan muncul dan HP bukan termasuk mushaf.sehingga tidak masalah kalau kita menggunakan HP padahal kita dalamkeaadaan junub, tetapi alangkah baiknya apabila kita ke toilet , ahp tersebut jangan kita bawa.

Next Page »

Blog at WordPress.com.